knowing

0 komentar


Sebuah penggalian yang dilakukan di sebuah sekolah menemukan barang-barang dari masa lalu yang memang sengaja dikubur untuk ditemukan orang-orang di masa yang akan datang. Salah satu dari hasil temuan itu adalah deretan angka yang dibuat oleh seorang anak lima puluh tahun yang silam. Semula deretan angka itu terlihat seperti deretan angka acak namun ternyata di balik deretan angka itu tersimpan sebuah misteri.

Caleb Koestler (Chandler Canterbury), putra John Koestler (Nicolas Cage) membawa temuan itu dan menunjukkan pada ayahnya yang memang adalah seorang ahli astrofisika. Setelah meneliti deretan angka tersebut, John menyadari ada sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh si penulis dan ternyata di dalam deretan angka itu juga tersimpan sebuah fakta yang menakutkan.

Dalam deretan angka itu tersimpan beberapa catatan kejadian selama lima puluh tahun terakhir. Artinya, saat deretan angka itu ditulis, sang penulis tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Meski semula tak percaya, namun John akhirnya mau tak mau merasa khawatir bahwa ramalan yang tertulis dalam deretan angka itu memang akan benar-benar terjadi. Dan yang paling menakutkan adalah ramalan yang menyebutkan bahwa tak lama lagi ras manusia akan punah.

Kini John punya dua pilihan: membiarkan itu semua terjadi secara wajar atau berusaha untuk menentang takdir dan menyelamatkan seluruh umat manusia dari kepunahan seperti yang digambarkan dalam ramalan dari masa lalu itu. Masalahnya, adakah orang yang percaya pada kata-kata John atau John harus menjalankan misi mulia ini seorang diri.

Ide akhir dunia memang tergolong ide klasik. Bila Anda sempat melihat ARMAGEDDON yang dibintangi Bruce Willis di tahun 1998 lalu, kurang lebih ide itu juga yang coba diangkat lewat film ini. Bedanya mungkin adalah adanya pembauran antara pendekatan ilmu pengetahuan dan pendekatan agama yang disatukan dalam film berdurasi 121 menit ini. Mungkin Alex Proyas, sang sutradara, mencoba merangkul kaum agamis untuk bisa menikmati film ini dari sisi pandang mereka juga.

Sebenarnya ide Alex ini tak salah. Sayangnya dalam penuangannya jadi terasa sedikit mengganjal. Alex mencoba play safe dengan tidak berusaha menyebut agama secara terang-terangan tapi tetap saja penonton akan terbawa ke konotasi yang satu ini karena Alex memasukkan beberapa clue yang mengarah ke sana.

Soal special effect, sebenarnya tak ada yang baru tapi Alex menggunakannya dengan cara yang cukup efektif sehingga tak berkesan basi sementara dari soal akting, agaknya tak terlalu ada masalah yang cukup parah. Satu yang patut disayangkan justru adalah Nicolas Cage yang belakangan jadi sering terjebak bermain dalam film-film yang malah merusak image yang ia bangun sejak ia bermain dalam VAMPIRE'S KISS. (kpl/roc)

film deep impact dan armageddon

0 komentar




DENGAN deskripsi yang terasa realistis, dua buah film produksi Hollywood, Armageddon dan Deep Impact cukup berhasil mencekam penontonnya dengan penggambaran kiamat yang melanda bumi. Dengan visualisasi yang seolah apa adanya, inferno atau kehancuran yang sangat menakutkan itu terdeskripsikan lewat hujan meteor dan tubrukan asteroid dengan planet bumi.

Sebuah telaahan, baik dari segi perhitungan maupun pengamatan astronomis yang dilakukan seorang astronom AS Don Yeomans pada 24 Juli 2002, memprediksi, pada 1 Februari 2019 akan jatuh sebuah asteroid NT7 dengan diamater sekira 1,5-2 km akan menabrak bumi!

Atau, dalam jangka waktu yang lebih lama daripada itu ada juga asteroid 1950DA. Ukurannya sebesar gunung dan menurut para astronom, ia memang sudah berada pada jalur lurus dengan bumi. Salah satu skenario terburuk yang terungkap, 1950DA akan menubruk sasaran layaknya air. Ini disebabkan planet kita mengandung lebih banyak air ketimbang daratan.

Ketika asteroid itu jatuh ke permukaan air, ia akan melayang sejenak. Tatkala menyentuh dasar lautan, ia akan meledak menciptakan sebuah kawah seluas 11 mil. Gelombang air dan reruntukannya akan diterbangkan beberapa mil ke angkasa, dengan ketinggian mencapai tingkat yang bisa dicapai pesawat jet. Kalau Anda pernah menyaksikan film Deep Impact, persis seperti itulah yang terjadi.

Sebagai sebuah komparasi, staf pengajar Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Suryadi Siregar, MSc. sempat memaparkan dalam sebuah talk show astronomi di Kampus ITB beberapa waktu lalu, bahwa hal serupa sempat beberapa kali terjadi terhadap "planet biru" kita, yang hingga saat ini masih dianggap menjadi satu-satunya planet yang berpenghuni.

"Pada 109 tahun lalu, sebuah asteroid menabrak bumi di Arizona, membuat sebuah lubang dengan kedalaman 190 meter dan diamater 3300 meter. Hal serupa terjadi di Wolf Creek, Australia, membuat cekungan sedalam 18 meter dan luas 170 meter, juga di Wabar, Arab Saudi, yang dampaknya hampir sama dengan di Australia," tuturnya.

Lalu, ujarnya, pada 30 Juli 1908 di Tunguska terjadi guncangan besar yang gaungnya bisa terdengar dari jarak 60 km. Direkam dari jarak 1000 km, berat guncangan itu diperkirakan mencapai 40.000 ton. Kendati hingga kini masih dipandang kontroversial, karena ada sementara kalangan yang menyebut kejadian itu bukan karena asteroid namun oleh jatuhnya komet Emcke, toh fenomena astronomis jatuhnya benda langit ke bumi, merupakan keniscayaan.

Widya Sawitar, salah seorang pengurus Planetarium Jakarta mengungkapkan pada kesempatan serupa, contoh musnahnya dinosaurus dari muka bumi yang diduga berkait dengan jatuhnya asteroid berdiameter sekira 10 km, dalam wujud meteor raksasa ke bumi, 65 juta tahun lalu. "Meteor itu jatuh di Jazirah Yucatan Meksiko membentuk Kawah Chicxulub (Ekor Selatan) berdiamater 200-300 km, dan kedalaman 3 km, yang menjadi bagian dari Teluk Meksiko. Namun, sekira 8 juta tahun sebelumnya, telah didahului dengan terbentuknya Kawah Manson di Ohio bergaris tengah 35 km," ungkap Widya.

Kondisi-kondisi serupa memang banyak ditemukan dari hasil penelitian. Juga kemungkinan terjadinya hal serupa di masa depan. Salah satunya adalah prediksi asteroid NT7 di atas, atau hasil temuan Scotti (6 Desember 1997) bahwa asteroid 1997XF11 ditaksir akan mendekati bumi pada 28 Oktober 2028. Termasuk asteroid 1950DA.

"Tapi, khusus untuk prediksi 2019, kemungkinannya kecil karena untuk bisa menabrak ada syarat inklinasi (kemiringan sudut--red.) tertentu, yang tidak terpenuhi pada perhitungan asteroid NT7. Kendati begitu, ancaman lain tetap ada pada asteroid lain yang menjadi kandidat untuk 'menemui' bumi. Meski kadang, media memang membesar-besarkannya demi menarik perhatian pembaca," kata Suryadi.

Kembali ke 1950DA, sebetulnya termasuk berukuran kecil dibandingkan asteroid lainnya. Tapi, sebuah asteroid terkecil sekalipun sanggup memusnahkan sebuah kota dalam tumbukan langsung. Dan jangan lupa, di atas sana masih ada banyak batu-batuan luar angkasa. Salah satunya sempat luput menabrak bumi, dengan hanya berjarak 75.000 mil pada Juni 2002 lalu.

Tapi, kita masih boleh bergembira. Sebab kabar baiknya, 1950DA masih berada 877 tahun perjalanan dari bumi. Lagipula, kemungkinannya untuk benar-benar menabrak planet kita dan menyebabkan skenario sebagaimana terpaparkan di atas hanyalah 1:300. Simulasi tentang skenario tabrakan itu sempat dilakukan ilmuwan Steven Ward dan Erik Asphaug dari Universitas California, Santa Cruz.

Sekalipun terdapat lebih banyak lagi 1950DA bahkan dengan ukuran lebih besar, kedatangan mereka akan lebih lambat ketimbang ditemukannya senjata pemusnah asteroid yang kini juga terus dikembangkan. Meskipun dengan bantuan dana yang sangat minim. Lagipula, sekelompok ilmuwan, banyak di antaranya yang bekerja hanya dilatari semangat dan idealisme ketimbang bantuan nyata pemerintah, bekerja keras untuk mencari metode ampuh melumpuhkan asteroid, sebelum jaraknya semakin dekat dengan Bumi.

NASA sudah lebih dari setengah jalan meneliti asteroid dan komet yang akan berada pada jarak terdekat dengan bumi yang disebut "objek dekat bumi" atau NEOs (near earth objects) yang luasnya lebih dari satu kilometer. Para ahli memperhitungkan bahwa kemungkinan sebuah objek dengan ukuran tersebut dan bisa menabrak bumi pada abad mendatang adalah hanya satu dari ribuan lainnya. Namun, dampak yang ditimbulkannya akan sangat luas.

Setelah para astronom mengamati asteroid dengan teleskop, mereka menggunakan penjejak radar untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh kemana arah asteroid itu. Demikian pula, berapa kecepatannya, dan apakah orbitnya di sekitar matahari akan melewati Bumi. Sebelum 1950DA diperkirakan akan berhadapan dengan Bumi pada 1880, asteroid itu akan memutari matahari 400 kali, sementara Bumi akan melengkapi 876 orbit.

Bagaimanapun, para astronom menegaskan bahwa fenomena astronomis sebagaimana terpapar di atas adalah hal yang wajar dan niscaya. Ancamannya memang mengerikan, tapi itu merupakan gejala alam yang wajar dan memang sebuah keniscayaan. Yang justru lebih mengerikan bahwa kehancuran bumi bukan kerena asteroid, tapi karena ulah penghuninya yang memang berlangsung pelan tapi pasti. Populasi bumi semakin membengkak, bahan pangan sudah semakin terkuras, polusi di mana-mana. Teknologi memang sudah maju, tapi penggunaannya tidak semata diarahkan untuk kesejahteraan manusia, tapi lebih untuk memerangi manusia lainnya.

Kalau sudah begitu, fenonema astronomi sebagaimana dipaparkan di atas, agaknya harus dipandang sebagai peringatan untuk menggugah kesadaran kita, bahwa keserakahan (greed) tak bakal membuat kekal manusia. Bahkan, kemungkinan ketika tabrakan asteroid itu menjadi "gong penutup" kehidupan di muka bumi alias kiamat, itulah memang yang terdeskripsikan dalam berbagai kitab suci agama.

2012

0 komentar





2012 adalah sebuah film bencana tahun 2009 yang disutradarai Roland Emmerich. Film ini memiliki ensemble cast, termasuk John Cusack, Amanda Peet, Danny Glover, Thandie Newton, Oliver Platt, Chiwetel Ejiofor, dan Woody Harrelson. Film ini akan didistribusikan oleh Columbia Pictures. Syuting dimulai bulan Agustus 2008 di Vancouver.









Alur

Film ini terinspirasi oleh ide peristiwa hari kiamat global yang bersamaan dengan akhir putaran Kalender Hitungan Panjang Maya pada atau sekitar 12 Desember 2012 (titik balik matahari musim dingin belahan Bumi utara).

Jackson Curtis (John Cusack) adalah seorang ayah yang telah bercerai yang bekerja sampingan sebagai supir limousin dan penulis, sementara bekas istrinya (Amanda Peet) dan anak-anaknya tinggal bersama dengan pacar barunya, Gordon (Thomas McCarthy).

Di kota Tikal suku Maya di Guatemala, korban bunuh diri massal tampaknya mempercayai kalender Maya, yang meramalkan akhir dunia yang bersamaan dengan Kesejajaran Galaktik, yang terjadi pada 21 Desember 2012, tanggal terjadinya titik balik matahari musim dingin di belahan Bumi utara. IHC (Institute for Human Continuity), sebuah organisasi rahasia, menyadari situasi ini dan mulai membangun bahtera besar di bawah Pegunungan Himalaya yang dirancang untuk menghadapi banyak bencana alam untuk menyelamatkan manusia, spesies tertentu, dan harta manusia yang paling berharga ketika kiamat akhirnya terjadi. Ada perdebatan tentang bagaimana dan kapan pemerintah dunia akan memberitahu warga mereka, dan cara memilih orang-orang yang akan diselamatkan dari kiamat ini. Sementara itu, ketika sedang dalam perjalanan siang menuju Yellowstone dengan dua anaknya, Jackson bertemu Charlie Frost (Woody Harrelson), yang membawakan acara radionya sendiri tentang prediksi suku Maya terhadap 21 Desember 2012.

Retakan besar terbentuk di Patahan San Andreas, California, dan meskipun pemerintah meyakinkan segalanya aman, Jackson tidak yakin. Menyewa pesawat pribadi dan memperoleh barang-barang darurat, ia pergi ke rumah Kate di L.A. untuk menyelamatkan keluarganya dan Gordon dari gempa bumi karena perpindahan kulit Bumi. Jackson dengan cepat mengumpulkan keluarganya, dan setelah perjalanan yang panjang dan berbahaya dengan jalan-jalan yang runtuh menuju Bandar Udara Santa Monica, pacar baru Amanda, Gordon menggunakan kemampuan terbangnya untuk menyelamatkan keluarga ini. Deluruh kota Los Angeles yang runtuh mulai tenggelam ke Samudera Pasifik. Ketika pesawat semakin kekurangan bahan bakar, kelompok ini melihat kemungkinan mendarat di Wyoming. Jackson memanfaatkan kesempatan ini untuk bertemu Charlie. Menentang keinginan Kate, Jackson dan Lily pergi mencari Charlie, meskipun menemukan vannya kosong. Melalui radio, Charlie memberitahukan pendengarnya bahwa ia telah pergi ke pegunungan untuk menyaksikan kiamat. Jackson mengambil van tersebut untuk menyelamatkan Charlie, tapi Charlie menolak pergi. Ketika Jackson dan Lily melarikan diri dari gunung api yang meletus, Charlie menyebutkan sebuah peta di van yang akan memperlihatkan rute lari. Jackson dan Lily pergi kembali ke pesawat melewati hujan batu lava. Setelah tiba, Lily lari ke pesawat, tapi Jackson tetap di van untuk mencari peta tersebut, dan itu terlalu lama. Ketika tanah terbuka, van itu jatuh ke sebuah celah. Keluarga Jackson ketakutan, tapi harus pergi. Jackson memegang pinggiran, dan berlari ke pesawat ketika tanah di belakangnya terus runtuh. Ia cukup cepat memasuki pesawat.

Semakin jelas bahwa tidak hanya California yang mengalami bencana: Gunung Api Super Yellowstone meletus; gempa besar terjadi di Amerika Selatan; Washington, D.C. dibanjiri oleh tsunami dan USS John F. Kennedy menghancurkan Gedung Putih; dan St. Peter's Basilica di Roma runtuh, menewaskan ribuan orang. Tsunami lain menghantam New York City, menenggelamkan Patung Liberty. Pemerintah AS akhirnya mengumumkan akhir dunia. Jackson dan keluarganya harus mencari jalan ke Cina untuk menaiki kapal besar, karena pesawat kecil mereka tak mampu melakukan perjalanan ini. Ketika mereka mencari pesawat baru, semuanya dipenuhi penumpang. Tetapi, Gordon bergantung pada salah satu klien lamanya, Tamara (Beatrice Rosen). Ia bersama dengan milyuner Rusia, Yuri Karpov (Zlatko Buric). Keluarga ini mengetahui bahwa Yuri telah membawa pesawat untuk kabur ke Cina. Jackson meminta untuk memperbolehkan keluarganya, tapi Yuri menolak. Tetapi, pilotnya, Sasha (Johann Urb) memberitahu bahwa ia membutuhkan seorang kopilotdan Jackson mengatakan Gordon adalah pilot terlatih. Sehingga, kelompok ini akhirnya menaiki pesawat tersebut sementara bandara hancur oleh gempa bumi.

Ketika mereka ada di udara, Sasha sadar bahwa pesawat ini tidak memiliki bahan bakar cukup untuk terbang ke Cina. Ia memberitahu Gordon, dan mereka setuju untuk mendarat di air. Sasha kemudian mengetahui bahwa mereka tidak lagi di atas lautan: kulit Bumi telah berpindah ribuan mil dan mereka mengarah ke Pegunungan Himalaya. Mengetahui resiko mendaratkan pesawat di atas salju, Sasha mengatakan pada penumpang untuk pergi ke penyimpanan kargo dan banyak mobil disimpan di sana, sementara ia dan Gordon mempertahankan kontrol dan membuka pintu kargo dari kokpit. Rencana mereka ialah mengeluarkan mobil tersebut dari penyimpanan kargo. Gordon harus meninggalkan Sasha dan berlari ke mobil tepat waktunya. Sasha mendaratkan pesawat di sebuah jurang, yang kemudian runtuh. Anggota kelompok lainnya mendarat selamat. Tamara menangis dan meminta agar mereka kembali untuk mencari Sasha. Sebelum mereka bertindak, helikopter Cina yang mengangkut hewan besar terbang di atas mereka. Satu helikopter mendarat, meskipun kelompok ini tahu bahwa mereka harus bayar untuk menaikinya. Yuri membayar untuk dirinya dan putranya, tapi menolak membayar untuk orang lain. Sebelum masuk helikopter, ia berkata pada Tamara bahwa ia tahu hubungannya dengan Sasha.

Kelompok ini tak memiliki pilihan kecuali jalan melintasi pegunungan untuk mencari kelompok lain. Sebuah mobil lewat, Jackson melempar batu ke arahnya. Mobil berbalik dan penumpang membolehkan mereka naik. Di dalamnya terdapat seorang biarawan Buddha, Nima (Osric Chau), dan neneknya (Lisa Lu). Mereka pergi untuk bertemu dengan saudara Nima, Tenzin (Chin Han), yang punya rencana untuk menyelinap ke kapal besar itu.

Setelah tiba, Tenzin marah. Ia mengatakan pada Nima bahwa rencananya tidak dapat melibatkan banyak orang, dan orang lain tidak bisa diikutkan bergabung. Jackson dan Kate memaksa pada Tenzin bahwa mereka membawa anak-anak. Setelah perdebatan panjang, Tenzin membolehkan seluruh kelompok bergabung.

Jackson dan keluarganya berusaha menyelinap ke kapal itu dengan bantuan Tenzin. Carl Anheuser (Oliver Platt), Kepala Staf Presiden kemudian memerintahkan agar gerbang kapal ditutup, sementara suplai belum cukup. Ketika gerbang ditutup, kaki Tenzin hancur dan Gordon tewas. Dr.Adrian Helmsley,penasihat ilmiah Presiden (Chiwetel Ejiofor), kaget dan memutuskan gerbang dibuka untuk korban selamat yang tersisa. Roda sebuah gerbang di kapal tersebut macet dan tak mau menutup, sehingga gerbang setengah terbuka. Mesin kapal tak bisa dinyalakan kecuali gerbang ditutup. Ketika tsunami menghantam kapal, sebuah struktur penopang utama patah, dan kapal mengapung menuju Gunung Everest. Jackson dan Noah berusaha memperbaiki roda kapal dan gerbang pun tertutup. Mesin dinyalakan kembali untuk menghindari tabrakan dengan gunung. Kapal menabrak Gunung Everest, tapi mengalami sedikit kerusakan. Ketika banjir menyurut, kapten kapal memutuskan Tanjung Harapan Baik di Afrika Selatan sebagai tanah baru yang cocok bagi korban selamat.


Produksi

Sutradara Roland Emmerich dan komposer-produser Harald Kloser menulis naskah spekulatif berjudul 2012, yang dipasarkan ke studio-studio besar bulan Februari 2008. Hampir semua studio bertemu dengan Emmerich dan perwakilannya untuk mendengar perkiraan biaya sutradara dan alur ceritanya, sebuah proses yang pernah dijalani sutradara itu melalui film Independence Day (1996) dan The Day After Tomorrow (2004). Film ini menganggarkan biaya $260 juta. Pada bulan itu, Sony Pictures Entertainment memenangkan hak untuk naskah spekulatif itu, berencana mendistribusikannya di bawah Columbia Pictures. Studio ini berencana membuat film ini kurang dari biaya perkiraan.

Pemfilman dijadwalkan dimulai di Los Angeles, California, bulan Juli 2008, tapi kemudian pindah ke Vancouver bulan Agustus 2008 dan selesai Januari 2009. Karena pemogokan Screen Actors Guild 2008, pembuat film membuat rencana cadangan untuk meneruskan film ini. Uncharted Territory, Digital Domain, Double Negative, Scanline, Sony Pictures Imageworks dan lainnya diiikutkan untuk membuat efek visual untuk 2012. Thomas Wander membuat musik bersama Harald Kloser.

Meskipun film ini memperlihatkan kehancuran sejumlah bangunan budaya dan bersejarah terkenal di seluruh dunia, Emmerich mengatakan bahwa Kabah juga dipertimbangkan untuk dihancurkan. Kloser tidak ingin memasukkan Makkah, dengan alasan ia tak ingin sebuah fatwa dikeluarkan untuknya.

Pemeran

Ø John Cusack sebagai Jackson Curtis, penulis buku fiksi ilmiah yang bekerja sampingan sebagai supir limousine.
Ø Amanda Peet sebagai Kate, bekas istri Jackson.
Ø Liam James sebagai Noah Curtis, putra Jackson dan Kate.
Ø Morgan Lily sebagai Lilly Curtis, putri Jackson dan Kate.
Ø Thomas McCarthy sebagai Gordon, pacar Kate saat ini dan seorang dokter bedah plastik.
Ø Danny Glover sebagai Thomas Wilson, Presiden Amerika Serikat ke-45
Ø Thandie Newton sebagai Laura Wilson, putri Presiden.
Ø Chiwetel Ejiofor sebagai Adrian Helmsley, penasehat ilmiah Presiden.
Ø Oliver Platt sebagai Carl Anheuser, Kepala Staf.
Ø Woody Harrelson sebagai Charlie Frost, seseorang yang memprediksikan akhir dunia dan dianggap gila oleh orang lain. Alex Jones mengklaim Harrelson berkata padanya bahwa karakter Frost didasarkan pada dirinya.[rujukan?] Tampaknya karakter Frost didasarkan pada Art Bell. Harrelson membandingkan karakternya pada figur mitologi Yunani, Cassandra, yang prediksinya ditolak.
Ø Ng Chin Han sebagai Lin Pang, seorang pekerja di Tibet.
Ø Zlatko Burić sebagai Yuri Karpov, seorang milyuner Rusia.

Pemasaran

Tanggal 12 November 2008, studio ini merilis trailer teaser pertama untuk 2012 yang memperlihatkan tsunami menerpa Himalaya dan memunculkan pesan ilmiah yang menyatakan bahwa dunia akan berakhir pada 2012, dan bahwa pemerintah dunia tidak mempersiapkan penduduknya untuk peristiwa ini. Trailer berakhir dengan pesan pada pembaca untuk "find out the truth" (cari kebenaran) dengan mencari "2012" menggunakan mesin pencari. The Guardian mengkritik keefektifan pemasaran sebagai "cacat dalam" dan menghubungkannya dengan "situs web yang tidak lagi membuat klaim tentang 2012".

Studio ini juga meluncurkan situs web pemasaran viral yang dioperasikan oleh Institute for Human Continuity yang dibuat-buat, di mana pemburu film bisa mendaftar untuk nomor undian untuk menjadi bagian dari penduduk yang akan diselamatkan dari kehancuran global. David Morrison dari NASA telah menerima lebih dari 1000 pertanyaan dari orang-orang yang mengira situs web tersebut asli dan mengutuknya dan berkata "Aku juga punya kasus remaja menulis padaku dan mengakatan mereka hendak bunuh diri karena mereka tidak ingin melihat dunia berakhir. Kupikir ketika kau berbohong di Internet dan menakut-nakuti anak-anak untuk menghasilkan uang, secara etis itu salah." Situs web pemasaran viral lainnya mempromosikan Farewell Atlantis, sebuah novel fiksi yang dibuat oleh pemain protagonis utama film ini, mengenai kejadian 2012.

Comcast juga telah mengadakan "kampanye tutup jalan" untuk mempromosikan film ini, di mana adegan dua menit dari film ini disiarkan di 450 jaringan televisi komersial Amerika Serikat, stasiun lokal berbahasa Ingris dan Spanyol, dan 89 penyalur televisi kabel dalam siaran 10 menit antara 10:50 malam EDT/PDT dan 11:00 malam EDT/PDT tanggal 1 Oktober 2009. Adegan ini memperlihatkan kehancuran Los Angeles dan berakhir dengan cliffhanger (istilah perfilman), dengan seluruh klip lima menit 28 detik tersedia di situs web Fancast milik Comcast. Surat kabar dagang Variety memperkirakan bahwa, "Siaran ini akan ditayangkan di depan 90% semua rumah yang menonton TV beriklan, atau hampir 110 juta penonton. Bila digabungkan dengan aliran online dan mobile, dapat meningkat lebih dari 140 juta penonton". Sony juga berencana meniru promosi ini di daerah lain.

Rilis

2012 awalnya dijadwalkan dirilis tanggal 10 Juli 2009. Tanggal rilisnya dipindahkan ke 12 November 2009 (13 Nov di AS) untuk keluar dari jadwal musim panas sibuk menjadi bingkai waktu yang studio ini anggap memiliki potensi kesuksesan finansial. Menurut studio, film ini akan selesai untuk tanggal rilis musim panas, tapi perubahan tanggal akan memberikan waktu lebih panjang untuk produksi. Film ini dirilis pada 11 November 2009.[27][2] Dirilis hari Jumat tanggal 13 November 2009 di Kanada dan Amerika Serikat, dan 21 November 2009 di Jepang Rilis besar dilakukan di India pada 13 November 2009. Di Britania Raya, sejumlah teater, seperti Vue Cinemas Islington, memiliki jadwal pemutaran pada pukul 8:12 malam (20:12) yang bersamaan dengan judul film.[28]


Penerimaan

Film 2012 saat ini memegang nilai 34% di Rotten Tomatoes berdasarkan 5 review, menyebut berbagai kesalahan ilmiah, naskah yang terkesan malas dan ketergantungan besar pada visual CG. Pada bagian 'critics' di atas, nilainya 22%. [29] Sebagai perbandingan, film ini juga memiliki nilai 'campuran' 56 di Metacritic, berdasarkan 7 review.[30]

Roger Ebert sangat antusias terhadap film ini, memberikannya 3.5 dari 4 bintang, mengatakan film ini "memberikan apa yang dijanjikan, sejak tak ada orang yang akan membeli tiket yang mengharapkan sesuatu yang lain, film ini, bagi para penontonnya, adalah salah satu film paling memuaskan tahun ini."